kalo ada yang belum baca part#1 nya silahkan klik ja disini ya…
Anjing gua beranak…
Pagi ini kaco lagi, n sekali lagi aku salah menafsirkan pagi karena ini sudah jam 08.53. weker yang ada disamping bantalku juga aku lihat masih seger ga kurang suatu apa tapi tetep aja sungkan bangunin aku meski udah aku setel buat teriak di telingaku pukul 06.30 ato mungkin gendang telingaku yang udah rusak? Aku harus ke doketr THT nanti siang, kalo tidak lupa.
Seperti hari-hari biasa jika ada kuliah pagi bagi orang normal, ato dini hari buat aku satu gayung air sudah teramat cukup buat cuci muka dan kumur. PDAM pasti bakal cepet bangkrut kalo seluruh mahasiswa di Indonesia kayak aku. Semoga cukup aku.
Hari ini ada kuliah pemrograman basis data, dosennya ga terlalu killer se tapi teramat sangat cukup untuk dinominasikan sebagai dosen paling pelit nilai di penghargaan kalpataru.
Orangnya disiplin banget kuliah pukul 07.00 subuh dia udah nongol dikampus. Selidik punya selidik ternyata rahasianya terletak pada tas yang selalu dibawanya. Tasnya begitu unik, ga terlalu besar se warnanya item, kata pak dosen itu tas kulit asli tapi gossip yang beredar tas itu terbuat dari kulit buaya yang mati jum’at kliwon, sebelum di jadikan tas harus dikeringkan selama 7 bulan 7 minggu, 7 hari, 7 jam, 7 menit dan 7 detik ga boleh kurang dan ga boleh lebih, baru setelah itu dijahit menjadi tas, penjahitannya pun ga boleh pake mesin, harus pake tangan! Dan jadilah tas itu sebuah produk yang langka dan maha sakti.
Begitulah rumor yang berkembang dikampus ini, rumor yang belum pernah terbukti secara ilmiah, klinis, maupun biologis. Tapi ga sedikit mahasiswa yang tau ketika dari tas itu tiba-tiba muncul payung ketika hujan turun, sepatu boat ketika banjir tiba hujan ma banjir selalu berhubungan intim di kampus ini, pernah juga ada yang melihat muncul dongkrak lipet buat ganti ban mobil F1 dari tas itu, baling-baling bamboo juga ada makanya dia ga bakalan telat sampe kampus, begitu katanya. Untung aja produsen Doraemon belum pernah ke kampus ini, seandainya saja dia lihat pasti kampus ini bakal kena tuntutan berlipat ganda buat penjiplakan kantong ajaib milik doraemon.
Yup, semoga hari ini produsen doraemon datang ke kampus ini dan menuntut Prof. Dr. Ir. Harmono Pambudya S.Kom. MSc. Sebagai penjiplak, n kuliah PBD ditiadakan untuk sementara.
…
Ternyata dugaanku meleset, produsen doraemon ga datang ke kampus, kuliah berjalan, dan aku telambat. Tuhan, untuk pertama kalinya aku memohon; selamatkan hambamu ini.
Sorot mata Prof. Dr. Ir Harmono Pambudya S.Kom. MSc. Tajam menusuk jantung hatiku, terlalu dramatis ya? Tapi memang begitulah keadaannya kacamata tebel yang ngalah-ngalahin mikroskoppun ga kuasa menahan sorot mata itu seakan dia sedang mengamati virus yang perlu pembesaran maksimal untuk bisa dilihat, lensa okuler diperbesar dan lensa objektif semakin dekat dengan objek, virus itu akhirnya bisa dijinakkan setelah dia kepanasan oleh tatapan seluruh penghuni kelas yang merasa melihat seorang terpidana mati yang tidak diberi kesempatan hanya untuk sekedar menta permintaan terakhir, untuk tidak dihukum mati.
“apakah saya tidak salah lihat?”
sambil membenarkan letak kacamata mikroskopnya, melihat kearahku, objek bergerak lagi.
“sebuat entitas yang apabila dibiarkan maka akan mebuat system yang akan kita buat error, reputasi, citra diri kita ato perusaahaan kita anjlok dan kita menjadi seorang yang hina dina, nista?”
Aku masih dipintu, seperti orang tolol. Ketololanku sudah teramat cukup parah walaupun ga ditambahi kejadian ini. Aku kira Prof., Dr., Ir., Harmono Pambudya, S.Kom., MSc. Sedang memberi materi kuliah, tapi aku ga terlalu yakin karena semua orang sedang memandangku. Prof., Dr., Ir., Harmono Pambudya, S.Kom., MSc. Over confident dengan wajah pas-pasan, pas buat ditaboki, pas buat dihina dina dan pas buat sebuah contoh bahwa gw bukan orang terjelek didunia ya setidaknya no 2 lah setelah ato Prof. Dr. Ir. Harmono Pambudya S.Kom. MSc mungkin lagi puber ke-2 tapi keliatannya ga de, aku terlalu pinter buat pelajaran reproduksi dan dilihat dari perawakan dan postrur serta wajah, Prof. Dr. Ir. Harmono Pambudya S.Kom. MSc lebih meyakinkan kalo telah terjadi monopouse dini.
Satu hal yang mustahil di kelas Prof. Dr. Ir. Harmono Pambudya S.Kom. MSc. Untuk pandangan bisa pindah kelain tempat selain lurus ke Prof. Dr. Ir. Harmono Pambudya S.Kom. MSc. Sekali meleng, ada aja barang ajaib yang tiba-tiba nyamperin muka, njedot jidat, ato ngeraba-raba celana/rok mahasiswa/I, nyang terakhir ini keliatannya cuma terjadi ama aku aja ketika temenku punya kesempatan langka buat tidur dikelas n mimpi enak trus aku yang jadi objek buat melampiaskan mimpinya.
“ditengah perkembangan aITi yang terus melesat tiap detik berubah, masih saja ada orang yg menyia-nyiakan waktunya untuk sekedar datang kekampus dan berdiri tolol di depan pintu kelas saya ketika kuliah saya sudah usai? Bagaimana bangsa ini bakal berkembang jika penerus perjuangan bangsa ini seperti DIA”
telunjuknya mengarah tepat ke hidungku, suaranya mengeledek, mengalahkan suara bung tomo membakar semangat arek-arek suroboyo 10 November 1945. -backsoundnya pake lagu maju takgentar.mp3 -
Ternyata aku benar, Prof. Dr. Ir. Harmono Pambudya S.Kom. MSc. Sedang tidak memberi kuliah tapi sedang mencaci-maki aku dipenghujung waktu kuliahnya. Pikiranku kadang telat, soalnya perangko di otakku terlalu mahal buat kilat ekspres, sms, email ga berlaku di duniaku.
“saudara yang ada didepan pintu, saya sebagai salah satu mantan pejuang angkatan 45 merasa sangat kecewa dengan saudara.”
Sambil membuang muka dengan ketus, tapi menurutku malah cenderung kemayu. Sisi lain Prof. Dr. Ir. Harmono Pambudya S.Kom. MSc sedikit terbuka.
“kuliah hari ini selesai, tugas dikumpulkan senin depan, 5 menit sebelum kuliah di mulai.”
Prof. Dr. Ir. Harmono Pambudya S.Kom. MSc. Penutup pertemuan kuliahnya dengan penuh wibawa. Setidaknya menutupi identitas lain dirinya yang hampir ketahuan dan aku masih tertegun didepan pintu, lebih tolol. Mungkin karena pengaruh alcohol semalem masih ada di peredaran darah menuju otak bebalku.
Dan twing…
Tiba-tiba muncul payung ukuran jumbo dari tas antik Prof. Dr. Ir. Harmono Pambudya S.Kom. MSc. Karena beberapa menit lalu hujan rintil-rintik turun disekitar kampus ini, mungkin ini efek dari dicucinya sepatu aku kemarin sama onta. Sedangkan Dibelakang kelas, sedang terjadi kegiatan illegal yang sudah menjadi wajib muakd buat kalangan kayak aku. TAROHAN.
“luk, ngikut ga?”
suara cemprang itu masih bisa dideteksi oleh telingaku, Jeki; Bandar maksiat di fakultas teknik ato tepatnya di kampus ini. Dari cuman sekedar taruhan tu cwek warna bra nya apa? Punya upil kgak dia? G-string ato berenda biasa ampe ada dosen mati ato kagak hari ini.
Bahkan denger-denger si jeki sempat berurusan sama polisi, bukan karena sabu-sabu, inex, ngganja, ato lagi sakaw kejang-kejang dipasar. Tapi dia ketangkep pas ada oprakan bencong bamboo runcing. Satu kondom durex sudah cukup untuk menggelandangnya menginap di prodeo. Semoga ga ketemu Prof. Dr. Ir. Harmoni P.udya S.Kom. MSc. amien,…..
“ngikut ape?.”
Tanyaku sambil ngedor-ngedor kepalaku berharap bisa berjalan normal tanpa harus menekan alt+cntrl+del.
“20rb-an ples kopi hangat dikantin mbok jum, nambah gorengan maksimal 3 tanpa makan siang, ga da rokok eceran, diluar menu ini berarti harus bayar sendiri. Gimana?.”
“buat?”
otakku heng lagi!
“taruhan monyong!.”
Kali ini Slamet unjuk bibir, manusia satu ini dikenal manusia paling maniak rokok di kampus, tapi anehnya; dia ga ngerokok. Lho kok??
Berasal dari sebuah gang kecil di sudut kota Surabaya, berbadan ceking kelihatanan banget kalo kekurangan gizi soalnya kalo kena radiasi nuklir 100% ga mungkin, nuklirnya terlalu males buat menyentuh tubuh pianonya.
Berkulit sawo matang tapi ga da manisnya sama sekali, rambut ½ keriting ½ rebonding pake setrikaan baju, bibir tebel n item banget jadi keliatannya ni anak doyan banget sama yang namanya rokok. Padahal tu bibir orisinil dari pabriknya ya emang kaya gitu.
“oh..”
pasti mulutku monyong banget. Bibir salemet pasti kalah de.
“taruhan apa? Si rini pake bra merah ato item? Romlah pake jilbab karne ga punya rambut ato ga punya kuping? Bayi yang diaborsi tina di dukun ato di tempat jagal sapi? Kemaren malem gua ngimpi nidurin tina ato rini?…”
“bukan….”
“… anjing gua yang beranak mirip jeki ato selamet? Ato dua-duanya? Abis kembar. …”
blep..lep, wuek…..wuek….
tiba-tiba aja sepasang kaos kaki ato lebih tepatnya kaos kaki jin iprit yang sangat alergi sama air, berbau sangat menyengat ngalah-ngalahin sampah karang gebang. mungkin malah udah melebur jadi satu di kaos kaki itu, setidaknya tidak terlalu membahayakan banyak nyawa karena ketinggian maupun polusinya tapi Cuma membahayakan satu nyawa, yaitu AKU.
“gimana rasanya? Critain dong!”
“an#@!$g lu”
kubuang jauh-jauh kaos kaki dari mulutku, setidaknya aku ga pengin mati sendirian karena racun yang terkandung di dalamnya. kampret! nuklir jepang ja kalah bahayanya dari tu kaos kaki.
“abis lu diajak serius malah konyol.”
Jeki angkat bicara.
“ga de jek, gua kagak punya duit, kostan udah ditagih terus, 5 bulan kagak bayar mana anjing gua beranak di dokter lagi pake operasi setan…”
“sesar!”
“ya, sersan…”
“sesar!.”
“ya.. ya itulah, gua ngurus surat keterangan ga mampu eh malah ditanyain KaTePe, anjing gua mana punya Katepe coba? Disuruh bikin surat keterangan keluarga gua bingung tu anak siapa bapaknya, mana anjing gua ga mo ngaku sapa yang pernag gaulin dia lagi, tapi kalo dilihat-lihat anaknya se mirip sama lo jek, lo mesti tanggung jawab!.”
“@n4!*g lo, gua ga sebejat itu buat ngehamili anjing lo diluar nikah, tolol! Masih banyak bencong yang nunggu gua.”
Keras dan lantang jeki teriak dikupingku, mencak-mencak juga dia ketika dituduh menghamili anjing diluar nikah.
Suara jeki yang keras menjadikan jeki pusat perhatian beberapa anak yang masih di dalam kelas para cewek langsung mengelus dada, menghela nafas panjang lega karena jeki bukan orang yang suka ma cewek, sebuah maha bencana dasyat bagi cewek yang ditaksir jeki, mungkin begitu pikir mereka. Beberapa cowok pun langsung ngacir keluar kelas sambil menutupi bokong mereka dengan benda tebel, tas, buku, bahkan beberapa membawa kursi mereka sampe luar karena ga bawa tas sama buku.
Tarohan di cancel…
Aku dan jeki keluar ruangan, anak-anak menyingkir seperti melihat napi psikopat sedang keluar dari sel tahanannya. Tatapan mata garing, sedih, kasihan dan beberapa tatapan mata yang ga mengenakkan tertuju pada kami. Beberapa mahasiswa juga masih menutupi auratnya dengan benda keras, bahkan ada yang pinjem perisai polisi segala.
Slamet dimana, dimanakah dikau?
dan Ternyata slamet sedang mencari kaos kakinya yang aku buang tadi, diubek setahun mungkin juga ga bakal ketemu karena tadi sempat ku dengar ada anak mahasiswa yang ngubungi gegana katanya
“lapor pak, a..a..ada be..b..om d..de..d..di kam..k..k..pus kampus ke..ke..”
“dik, lapor yang jelas dong! Mo neror ya? Laporan kamu belum selesai bomnya udah meledak duluan!.”
Suara HPnya di Loundspeaker, jadi kedengaran jelas..jelas banget.
“b..be..bomnya bu..bu..kan y..y..yang bi..bi..sa me..mee..lee..duk p.pe..pak, te..tee.tapi b..ooo…m ki..ki..mia, at..oo b..be..om biii..oo..lloo..gi, gii..tu. a..bis b..aunya nm..m..emyengat s…se…s..ampai r..r..a..dius 1 kii..l..o ge..g..ram eh kii..l.oo lii…ter eh kiii…lo… m…e..t..er. susah banget se ngomong kilo meter, tai!”
“woi, kamu jangan main2 ya. Itu kok ga gagap?”
Tut..tut… telp ditutup, beberapa menit kemudian sekelompok hansip datang lebih cepat 30 menit dari pasukan gegana, hansip jasamu tiada tara. minimal ga ada paket yang nyasar ke kampus kami…..
oke jek, bersambung lagi ya… otak saia henk ne…:: sampai dengan dipost-nya tulisan ne,… kaos kaki slamet mash diamnakan di pos hansip terdekat ::

[...] (bersambung, y jek….) ke sini neh. klik aja [...]
endi ra isok diklik ngunu *koplak mode on
iso kang